Tentang laut yang semakin dekat, kebun yang perlahan menghilang, dan kehidupan keluarga petani yang ikut berubah bersama matinya pohon-pohon kelapa.
Ada pemandangan yang terasa ganjil di sebuah negeri yang sejak lama hidup bersama kelapa.
Batang-batang itu masih berdiri.
Tinggi, kurus, dan sebagian masih menjulang seperti dulu. Tetapi tak ada lagi hijau yang rimbun di pucuknya. Tak ada buah yang menunggu dipetik. Tak ada suara pekerja yang datang membawa parang dan karung.
Yang tersisa hanyalah batang-batang kelapa yang mati.
Diam. Seperti sedang menjadi nisan bagi sebuah kebun yang pernah menghidupi banyak keluarga.
Di kejauhan, laut terlihat biasa saja. Ombaknya datang dan pergi seperti sudah dilakukan sejak ribuan tahun lalu.
Namun bagi masyarakat yang hidup di pesisir, laut tak lagi terasa sejauh dahulu.
Ia semakin dekat.
Sedikit demi sedikit daratan terkikis. Air asin masuk ke kawasan yang sebelumnya merupakan kebun. Tanggul yang selama bertahun-tahun memisahkan air laut dan perkebunan tak selalu sanggup bertahan.
Ketika air asin akhirnya masuk, persoalannya bukan sekadar tanah yang tergenang.
Kelapa Tidak Mengenal Istilah Mengungsi
Pohon-pohon itu tetap berdiri di tempat yang sama.
Akarnya tetap tertanam di tanah yang perlahan berubah. Daunnya mulai menguning. Buahnya berkurang. Hingga akhirnya pohon yang selama puluhan tahun memberi kehidupan itu berhenti menghasilkan apa-apa.
Lalu mati.
Dan ketika satu pohon kelapa mati, mungkin kita hanya melihat satu batang pohon.
Tetapi bagi seorang petani, yang hilang bisa jauh lebih besar.
Di sana ada penghasilan untuk membeli beras.
Ada uang sekolah anak.
Ada biaya berobat.
Ada tabungan untuk memperbaiki rumah.
Ada rencana pernikahan.
Ada cita-cita anak yang ingin melanjutkan pendidikan.
Ada kehidupan yang selama bertahun-tahun dibangun dari buah-buah kelapa.
Maka ketika banyak batang kelapa mati bersamaan, yang sesungguhnya sedang hilang bukan hanya sebuah perkebunan.
Sebuah cara hidup ikut perlahan menghilang.
Negeri yang Tumbuh Bersama Kelapa
Indragiri Hilir sudah lama dikenal sebagai negeri kelapa.
Di banyak kampung, kelapa bukan tanaman yang sengaja dipamerkan sebagai identitas. Ia memang tumbuh bersama kehidupan masyarakat.
Anak-anak melihat orang tuanya pergi ke kebun sejak mereka kecil. Sungai menjadi jalan. Pompong menjadi kendaraan. Parit-parit menjadi urat nadi yang menghubungkan kebun dengan kampung.
Kelapa membiayai kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, pemandangan kelapa mati akibat air asin menyimpan ironi yang sulit dijelaskan.
Di negeri yang begitu dekat dengan kelapa, justru kelapa-kelapa itu kini harus berjuang untuk tetap hidup.
Abrasi mungkin terdengar seperti istilah lingkungan.
Intrusi air laut terdengar seperti bahasa teknis.
Perubahan iklim terdengar seperti persoalan yang terlalu besar dan terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari.
Sampai suatu hari kita berdiri di tengah kebun dan melihat sendiri pohon kelapa yang mati.
Barulah istilah-istilah itu memiliki wajah.
Wajah seorang petani yang kebunnya tidak lagi menghasilkan.
Wajah seorang ibu yang harus menghitung ulang pengeluaran rumah tangga.
Wajah seorang anak yang masa depannya ikut bergantung pada pendapatan orang tuanya.
Dan wajah sebuah kampung yang bertanya-tanya:
“Sampai kapan daratan ini mampu bertahan?”
Ketika Laut Mendekati Rumah
Alam sebenarnya sudah lama memberikan peringatan.
Mangrove yang tumbuh di pesisir bukan sekadar kumpulan pohon yang memenuhi tepian laut.
Ia adalah benteng.
Di balik akar-akarnya, ada daratan yang dipertahankan. Ada gelombang yang diredam. Ada kehidupan laut yang berlindung. Dan lebih jauh ke daratan, ada kebun-kebun masyarakat yang ikut dijaga.
Ketika benteng itu berkurang dan garis pantai terus tergerus, laut memperoleh jalan semakin dekat menuju kehidupan manusia.
Bagi sebagian masyarakat pesisir, hilangnya daratan bukan lagi sekadar perkiraan tentang masa depan.
Ia sudah menjadi kenyataan yang bisa dilihat dari kebun yang tidak lagi menghasilkan, pohon yang mati, tanah yang terendam, dan kehidupan yang harus disusun kembali.
Yang lebih menyedihkan, beberapa pohon kelapa yang mati itu masih berdiri.
Seolah-olah sengaja dibiarkan alam sebagai pengingat.
Bahwa pernah ada kebun di sana.
Pernah ada hasil panen.
Pernah ada kehidupan.
Jangan Sampai Hanya Menjadi Cerita
Mungkin suatu hari nanti batang-batang kelapa mati itu akan roboh seluruhnya.
Dimakan usia, angin, dan ombak.
Generasi yang lahir puluhan tahun kemudian mungkin tidak pernah tahu bahwa laut yang mereka lihat pernah menjadi kebun milik seseorang.
Mereka mungkin tidak tahu bahwa di tempat perahu melintas, dahulu orang berjalan membawa kelapa.
Bahwa di tempat ombak pecah, dahulu ada tanah tempat seseorang menggantungkan masa depannya.
Karena itu persoalan abrasi bukan hanya tentang menyelamatkan garis pantai.
Ini tentang menyelamatkan ingatan.
Menyelamatkan ruang hidup.
Dan menyelamatkan kesempatan sebuah generasi untuk tetap mempunyai kampung yang bisa mereka sebut rumah.
Kelapa-kelapa yang telah mati mungkin tidak bisa kita hidupkan kembali.
Tetapi masih ada kelapa yang berdiri.
Masih ada mangrove yang bisa dijaga.
Masih ada pesisir yang bisa dipulihkan.
Masih ada keluarga yang berharap kebunnya tidak menjadi cerita berikutnya.
Dan mungkin, sebelum semuanya terlambat, pertanyaan yang harus kita ajukan bukan lagi:
“Seberapa banyak kebun yang sudah hilang?”
Melainkan:
“Berapa banyak lagi yang masih bisa kita selamatkan?”

